Suhu sore ini terasa sepetti sore hari di daerah Puncak, Bogor, Jawa Barat. Itu yang dirasakan oleh dua insan Indonesia sore ini. Mereka sedang menikmati suasana cuaca musim dingin yang sebulan lalu dimulai di tepian Creek Park, Dubai. Creek Park adalah sebuah taman di sebelah kanan bantaran kanal air asin di Kota Dubai di lihat dari dalam kota, yang memiliki suatu taman asri dipenuhi dengan berbagai tanaman bunga dan air mancur, serta lorong-lorong pejalan kaki buatan yang bersih dan dilengkapi dengan tempat pemberhentian bertempat duduk terbuat dari logam anti karat dan hampir semuanya menghadap ke kanal. Pemandangan orang-orang yang sedang menikmati suasana sore ini terkadang kelihatan mencolok apabila membandingkan antara dua orang lelaki Indonesia empatpuluh tahunan dan seorang lelaki kulit putih (bule) yang sedang berpapasan ketika mereka berjalan. Udara sedingin ini si Bule berjalan tanpa memakai jaket kecuali kaos oblong dan celana pendek katon sedangkan dua orang Indonesia itu, seorang memakai jaket kulit dan yang satunya memakai sweater terbuat dari kain berbahan wool, dan keduanya sama-sama memakai celana jeans. Di akhir bulan Januari merupakan puncak musim dingin di daerah Persatuan Arab Emirates di mana Dubai berada.
Dua orang Indonesia yang pernah bersahabat ketika mereka masih duduk di satu sekolah suatu SMA di Jakarta Selatan, kini sedang berjalan di Creek Park, Dubai sambil menikmati cerita nostalgia mereka setelah lama tidak berjumpa karena profesi mereka yang berbeda. Setelah lulus SMA masing-masing harus berpisah. Mereka adalah Roni dan Toni. Roni harus kuliah ke Fakultas Teknik di suatu perguruan tinggi di Kota Bandung dan Toni tetap di Jakarta karena kuliah di Jurusan Hukum di salah universitas swasta ternama di Jakarta. Setelah menyelesaikan kuliah mereka, Roni beketja di Perusahaan Minyak Asing, sedangkan Toni memilih bekerja sebagai pembantu pengacara sambil meneruskan kuliah magisternya jurusan Ilmu Politik. Inilah yang mebuat Toni ketika dia lulus dari magisternya memilih beraktivitas di dalam Partai Golkar, suatu partai yang terbentuk dari turunan suatu golongan bernama Golongan Karya disingkat Golkar. Golkar sebelum menjadi sebuah partai merupakan kendaraan politik bagi golongan yang pro penguasa ketika Orde Baru (Orba) berkuasa di Indonesia selama tigapuluh dua tahun lamanya.
Ayah Roni saat itu merupakan seorang karyawan perusahaan minyak asing yang beroperasi di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara. Sedangkan ayah Toni merupakan purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat terakhir adalah Brigadir Jendral dari kesatuan Angkatan Darat di Jakarta, dan ketika pensiun menjabat sebagai salah satu Bupati di salah satu Kabupaten di Propensi Jawa Barat sebelum Orba tumbang.
Ketika Orba tumbang datanglah era baru yang disebut era Reformasi. Suatu era yang terbentuk dengan memakan korban menurut Komisi Hak Azasi Manusia sekitar 2000 orang meninggal dunia serta ratusan toko, mall dan supermarket menjadi ladang penjarahan dan penbakaran. Walaupun Orba tumbang akan tettapi Golongan Karya (Golkar) tidak ikut dilarang melainkan Golkar yang sejatinya merupakan suatu golongan bertransformasi menjadi suatu partai politik baru, dengan nama Partai Golkar.
Bagi Toni untuk masuk sebagai anggota Partai Golkar tidaklah sesusah bagi mereka yang bukan dari anak bekas petinggi TNI AD, berkat keadaan ayahnya yang cukup memiliki kedudukan ketika Orba berkuasa dan hampir semua anggota Golongan Karya hanya berganti baju dari Golkar lama memakai baju Partai Golkar, maka dia dengan cepat memiliki kartu anggota Partai Golkar, bahkan kini Toni berhasil menjadi salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta Raya.
Toni saat ini sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan kerja melakukan studi banding di Eropah tentang Pendidikan Nasional dan sedang singgah di Dubai karena transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta, sekalian turun untuk bertemu dengan anggota masyarakat di Persatuan Emirat Arab dalam menambah data studi banding rombongannya. Di dalam forum tatap muka yang berlangsung di ruang pertemuan KJRI Dubai secara tidak sengaja Toni dan Roni bertemu, Roni saat ini di Dubai karena dia sedang bekerja di salah satu perusahaan minyak asing yang berkantor di Dubai. Pendek cerita lalu Roni membuat janji dengan bekas teman SMA-nya itu untuk melakukan jalan-jalan menikmati Kota Dubai agar dapat melampiaskan kerinduan dan menceritakan banyak tentang cerita hidup mereka yang telah terjadi selama perpisahan itu sampai akhirnya memasuki suatu taman Creek Park, Dubai.
Mereka berdua terus berjalan menyusuri Creek Park sampai mata Toni menatap pada seorang wanita muda bule yang betpakaian "you can see" (pakaian yang hanya menutup utamanya bagian-bagian sensitip badan dari seorang wanita dewasa, sedangkan seluruh lengan sampai dengan pangkalnya tidak dibalut oleh pakaian yang dipakai dalam udara sedingin ini. Toni sambil melirik si Bule bertanya kepada Roni;
"Ron..!, siapa itu?" Sambil mengedipkan mata dengan alis agak diangkat dan menggoyangkannya seolah melemparkan kepalanya ke arah si perempuan Bule berbadan seksi dengan aurat terbuka itu.
Dan dengan pengalaman hidup di Dubai selama lima tahun terakhir ini, Roni lalu menjawab dengan yakin, "Itu sih...., nampaknya perempuan dari Rusia".
"Rusia...?" Tanpa menunggu jawaban Roni selanjutnya Toni memotongnya dengan lanjutan pertanyaan itu. Lalu Roni menimpali dengan jawaban keheranan,
"Iyya..!, memangnya kenapa?..., ellho tertarik?", Roni melanjutkan, "Ellho sekarang Wakil Rakyat.., hati-hati entar ketahuan rakyat ellho...!", canda si Roni sambil tertawa, "Hahaha".
"Rusia khan komunis..., di Negara kita.., rumor komunis mah terkenal..., bahwa darah mereka halal, apalagi hanya menikmati tubuh mereka...!" potong si Toni.
"Hahahaha...." mereka berdua tertawa agak panjang sampai Toni menambahkan lagi candaannya,
"Orang Cina juga".
"Hahahaha......." tawa mereka semakin meledak-ledak.
"Kamu masih saja sama seperti dulu kalok lihat cewek....", sahut Roni ketika kepuasan tawa mereka hampir berakhir.
"Enggak, enggak..., aku sudah melupakan yang dulu-dulu, ini tadi mungkin karena sedang ada setan lewat..", sahut Toni yang disahut dengan tawa keduanya sambil Toni mengangkat tangan kanannya lalu Roni seolah menjulurkan tangan kanannya dengan telapaknya ditengadahkan ke atas seolah tau apa yang diinginkan Toni, lalu, "prak", suara dari kedua telapak tangan lelaki itu saling menepuk, Toni menepuk tangan Roni.
Ketika agak letih karena telah menyusuri jalan-jalan di dalam Creek Park lalu mereka duduk di atas kursi taman terbuat dari beja cor membentuk corak artistik yang didominasi lengkungan-lengkungan berujung lancip bagaikan pohon sirih yang menghadap ke jalan tepian kanal. Lalu-lalang perahu tradisional atau restoran terapung di balik jalan tepian bibir Creek Park terlihat jelas oleh mereka, dan tentunya ini menambah indahnya suasana sore cerah yang semakin gelap menyambut datangnya malam ini sampai melintas seorang wanita berperawakan kecil ukuran rata-rata wanita Asia Tenggara. Dalam suasana agak remang wanita itu nampak berkulit kuning langsap, dia dari jarak pandang mereka sedang berjalan menuju ke arah jalan setapak di depan tempat mereka sedang duduk.
Lalu Roni bertanya lagi untuk melampiaskan penasarannya melihat gadis Asia di Creek Park in,
"Tuh lihat siapa yang datang, pasti wanita Indonesia!". Lagi-lagi Toni salah menebaknya, dan berikut ini yang dikatakan Roni;
"Haha..., itu mah orang Vietnam....!".
"Vietnam...?, komunis juga, doong...!"
"Hahahaha.....", mereka larut dalam tawa mereka membayangkan rumor bahwa tubuh wanita komunis adalah halal untuk diapakan saja.
"Kamu masih tetap saja seperti dulu badumgnya, Ton", demikian Roni menyambung pembicaraan mereka setelah tawa mereka mulai reda.
Toni hanya terdiam sejenak lalu ia menjawab singkat, "mungkin ini penyakit turunan...".
"Hahaha...!", Roni menjawab canda tulus pengakuan temannya itu, lalu mereka terus saja duduk di situ.
Sambil duduk mereka menerawang jauh, mereka masing-masing lalu mengingat masa-masa SMA dulu, mengingat banyak teman kelasnya yang ceriah-ceriah, masa SMA merupakan masa awal seseorang dalam mencari jatidiri, suatu masa start-up dimana apabila pada masa itu start-nya baik, kemungkinan besar seseorang akan menjadi orang yang baik pula, demikian pula apabila seseorang pada masa SMA melakukan start yang keliru, maka akhir cerita dari orang itu akan dapat ditebak, kemungkinan besar dia tidak lebih dari rata-rata kebanyakan orang
Ketika SMA Roni lebih pendiam dibandingkan dengan Toni. Roni lebih menyukai pelajaran ilmu pasti dibandingkan dengan Toni. Roni lebih suka berolahtaga dibandingkan dengan Toni. Tetapi Toni lebih suka musik dibandingkan dengan Roni. Toni lebih supel dalam bergaul daripada Roni, sehingga Toni lebih mudah bergaul dengan siapa saja termasuk dengan teman-teman wanitanya baik di SMA ataupu di luar sekolahnya. Sehingga Toni lebih banyak memiliki teman wanita baik di sekolah ataupun di luar sekolah.
Toni berasal dari keluarga TNI, ayahnya seorang pensiunan Perwira Tinggi Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal, lalu menjadi Bupati di salah satu Kabupaten di Propensi Jawa Barat. Sedangkan keluarga Roni, ayahnya berlatar belakang sebagai pegawai Perusahaan Minyak Asing, suatu perusahaan swasta dengan posisi terakhir sebagai Kepala Bidang Pengadaan Barang-Barang Impor. Tentu keluarga Toni dalam berpolitik seratus persen berada di pihak Orde Baru (Otba) sedangkan keluarga Roni lebih bebas dalam memilih kecendrungan pilihan politiknya walaupun seperrti keluarga lainnya di masa Orba, di depan Orba tidak akan berani betolak belakang dengan arah garis politik Orba, kalau tidak, mereka akan diberi label antek-antek Partai Komunis Indonesia, PKI yang terlarang.
Dan dengan pengalaman hidup di Dubai selama lima tahun terakhir ini, Roni lalu menjawab dengan yakin, "Itu sih...., nampaknya perempuan dari Rusia".
"Rusia...?" Tanpa menunggu jawaban Roni selanjutnya Toni memotongnya dengan lanjutan pertanyaan itu. Lalu Roni menimpali dengan jawaban keheranan,
"Iyya..!, memangnya kenapa?..., ellho tertarik?", Roni melanjutkan, "Ellho sekarang Wakil Rakyat.., hati-hati entar ketahuan rakyat ellho...!", canda si Roni sambil tertawa, "Hahaha".
"Rusia khan komunis..., di Negara kita.., rumor komunis mah terkenal..., bahwa darah mereka halal, apalagi hanya menikmati tubuh mereka...!" potong si Toni.
"Hahahaha...." mereka berdua tertawa agak panjang sampai Toni menambahkan lagi candaannya,
"Orang Cina juga".
"Hahahaha......." tawa mereka semakin meledak-ledak.
"Kamu masih saja sama seperti dulu kalok lihat cewek....", sahut Roni ketika kepuasan tawa mereka hampir berakhir.
"Enggak, enggak..., aku sudah melupakan yang dulu-dulu, ini tadi mungkin karena sedang ada setan lewat..", sahut Toni yang disahut dengan tawa keduanya sambil Toni mengangkat tangan kanannya lalu Roni seolah menjulurkan tangan kanannya dengan telapaknya ditengadahkan ke atas seolah tau apa yang diinginkan Toni, lalu, "prak", suara dari kedua telapak tangan lelaki itu saling menepuk, Toni menepuk tangan Roni.
Ketika agak letih karena telah menyusuri jalan-jalan di dalam Creek Park lalu mereka duduk di atas kursi taman terbuat dari beja cor membentuk corak artistik yang didominasi lengkungan-lengkungan berujung lancip bagaikan pohon sirih yang menghadap ke jalan tepian kanal. Lalu-lalang perahu tradisional atau restoran terapung di balik jalan tepian bibir Creek Park terlihat jelas oleh mereka, dan tentunya ini menambah indahnya suasana sore cerah yang semakin gelap menyambut datangnya malam ini sampai melintas seorang wanita berperawakan kecil ukuran rata-rata wanita Asia Tenggara. Dalam suasana agak remang wanita itu nampak berkulit kuning langsap, dia dari jarak pandang mereka sedang berjalan menuju ke arah jalan setapak di depan tempat mereka sedang duduk.
Lalu Roni bertanya lagi untuk melampiaskan penasarannya melihat gadis Asia di Creek Park in,
"Tuh lihat siapa yang datang, pasti wanita Indonesia!". Lagi-lagi Toni salah menebaknya, dan berikut ini yang dikatakan Roni;
"Haha..., itu mah orang Vietnam....!".
"Vietnam...?, komunis juga, doong...!"
"Hahahaha.....", mereka larut dalam tawa mereka membayangkan rumor bahwa tubuh wanita komunis adalah halal untuk diapakan saja.
"Kamu masih tetap saja seperti dulu badumgnya, Ton", demikian Roni menyambung pembicaraan mereka setelah tawa mereka mulai reda.
Toni hanya terdiam sejenak lalu ia menjawab singkat, "mungkin ini penyakit turunan...".
"Hahaha...!", Roni menjawab canda tulus pengakuan temannya itu, lalu mereka terus saja duduk di situ.
Sambil duduk mereka menerawang jauh, mereka masing-masing lalu mengingat masa-masa SMA dulu, mengingat banyak teman kelasnya yang ceriah-ceriah, masa SMA merupakan masa awal seseorang dalam mencari jatidiri, suatu masa start-up dimana apabila pada masa itu start-nya baik, kemungkinan besar seseorang akan menjadi orang yang baik pula, demikian pula apabila seseorang pada masa SMA melakukan start yang keliru, maka akhir cerita dari orang itu akan dapat ditebak, kemungkinan besar dia tidak lebih dari rata-rata kebanyakan orang
Ketika SMA Roni lebih pendiam dibandingkan dengan Toni. Roni lebih menyukai pelajaran ilmu pasti dibandingkan dengan Toni. Roni lebih suka berolahtaga dibandingkan dengan Toni. Tetapi Toni lebih suka musik dibandingkan dengan Roni. Toni lebih supel dalam bergaul daripada Roni, sehingga Toni lebih mudah bergaul dengan siapa saja termasuk dengan teman-teman wanitanya baik di SMA ataupu di luar sekolahnya. Sehingga Toni lebih banyak memiliki teman wanita baik di sekolah ataupun di luar sekolah.
Toni berasal dari keluarga TNI, ayahnya seorang pensiunan Perwira Tinggi Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal, lalu menjadi Bupati di salah satu Kabupaten di Propensi Jawa Barat. Sedangkan keluarga Roni, ayahnya berlatar belakang sebagai pegawai Perusahaan Minyak Asing, suatu perusahaan swasta dengan posisi terakhir sebagai Kepala Bidang Pengadaan Barang-Barang Impor. Tentu keluarga Toni dalam berpolitik seratus persen berada di pihak Orde Baru (Otba) sedangkan keluarga Roni lebih bebas dalam memilih kecendrungan pilihan politiknya walaupun seperrti keluarga lainnya di masa Orba, di depan Orba tidak akan berani betolak belakang dengan arah garis politik Orba, kalau tidak, mereka akan diberi label antek-antek Partai Komunis Indonesia, PKI yang terlarang.
Bersambung......
No comments:
Post a Comment