Banyak oarng di Tanah Jawa ini mengetahui kalau Bapak Proklamator Kemerdekaan berasal dari Surabaya. Suatu kota terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Sebuah sebutan yang melekat pada kota ini karena suatu peristiwa bersejarah yang terjadi pada awal bulan Nopember 1948. Hampir seluruh penduduk Surabaya bahu-membahu bersama-sama menyingsingkan lengan dalam melawan tentara Sekutu yang hendak merebut kembali untuk menduduki Kota Surabaya. Perlawanan yang memakan banyak korban di pihak warga Kota Surabaya diakhiri dengan suatu kemenangan yang dimotori oleh "Arek-arek Suroboyo".
Untuk mengenang para pejuang yang gugur dan memberi hormat akan keberanian Laskar Warga Surabaya walaupun dengan senjata seadanya, sehingga berhasil mengalahkan tentara sekutu yang memiliki persenjataan dan peralatan perang yang jauh lebih lengkap dan canggih dibanding tentara Laskar, maka dimaklumatkan bahwa setiap tanggal 10 Nopember adalah sebagai simbul Hari Pahlawan di Indonesia. Merupakan suatu hari yang mewajibkan bagi semua anak bangsa untuk mengheningkan cipta guna mengenang jasa para pahlawan yang sudah gugur dalam memperjuangkan tegaknya Bendera Merah Putih, tetap bersatunya semua komponen bangsa, serta tetap berdiri kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang lebih penting lagi adalah, kegigihan semangat dalam menghadapi tantangan walaupun tantangan itu besar dan dilakukan dengan fasilitas yang terbatas, semangat juang yang tinggi akan dapat membuahkan hasil yang dicita-citakan.
Namun pada perjalanannya, Indonesia selalu ada gejolak didalam perebutan kekuasaan di dalamnya. Baik itu di awal berdirinya Negara ini sampai dengan duapuluh tahun sejak kemerdekaannya. Akan tetapi berkat kepemimpinan Bapak Bangsa yang kokoh, Sukarno, semua pemberontakan dapat ditumpas. Semua elemen Bangsa masih lebih mempercayakan amanat mereka kepada Sukarno sebagai Pimpinan Pemerintah Indonesia. Seperti pepatah lama mengatakan, "tak ada gading yang tak retak". Demikian pula Sukarno sebagai pemimpin Bangsa, walaupun akhirnya Sukarno harus menjalani tahanan kota yang diberlakukan oleh Pimpinan Militer yang telah didaulat untuk mengambil alih kekuasaan dari Sukarno sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Sejak setelah awal-awal kekuasaan Sukarno berpindah tangan, situasi Negara menjadi kacau. Anggota Partai Komunis Indonesia dianggap sebagai biang kekacauan yang diawali dengan peristiwa menurut rezim yang dikenal dengan rezim Orde Baru (Orba) disebut sebagai Gerakan 30 September oleh Partai Komunis atau yang disingkat dengan G30S/PKI. Suatu peristiwa yang diawali pada malam hari tanggal 30 September 1965 di Jakarta. Sekelompok tentara dari Angkatan Darat melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap Perwira Tinggi Militer dari Angkatan Darat pula yang dipimpin oleh seorang Kolonel yang dikenal dengan nama Untung. Sekilas sepertinya suatu persaingan di tubuh Angkatann Darat, demikian kesimpulan sebuah buku berjudul "A PRELIMINARY ANALYSIS OF THE OCTOBER 1, 1965, COUP IN INDONESIA oleh Benedict R. Anderson dan Ruth T. McVey dari Cornell University Itacha, New York yang ditebitkan pada tahun 1971, akan tetapi rekaan itu dibantah oleh kelompok yang menumpas bahwa, peristiwa itu dilakukan oleh anggota Angkatan Darat yang memihak kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Meraka menculik dan membunuh para petinggi Angkatan Darat yang tidak sejalan dengan idiologi PKI.
Spektrum peristiwa yang telah terjadi di Jakarta itu semakin lama semakin jauh merambat bagaikan gelombang di lautan ke seluruh pelosok Negeri. PKI sebagai tertuduh mulai dimusuhi oleh hampir semua elemen masyarakat Indonesia. Semua media pemberitaan dibatasi kecuali yang dikendalikan oleh Orba. Apakah itu berita dari media cetak, radio ataupun telivisi harus tunduk kepada aturan Pemerintah Orba. Akibatnya sudah jelas, Orba sepenuhnya mengendalikan informasi yang disajikan kepada masyarakat Indonesia di seluruh Nusantara. Apabila Orba menghendaki merah yang diberitakan, maka yang putih sekalipun harus ditinggalkan, demikian juga sebaliknya..
SEJUKNYA ANGIN DESA
Merupakan suatu keadaan yang sudah biasa di setiap bukit akan ada batu-batu cadas yang menjulang, bahkan bukit yang suburpun dipastikan di bawahnya adalah batu cadas pula. Itu dikarenakan pembentukan bukit ada berbagai macam cara, seperti; yang pertama karena dorongan lempengan tektonik ke permukaan, hal ini menyebabkan lempeng tektonik dan magma membentuk yang disebut gunung vulkanik. Yang kedua adalah lempeng bumi saling bertabrakan di kerak bumi, hal ini akan mengakibatkan terbentuknya bukit lipatan, yaitu suatu bukit terjal dengan lembah yang panjang, lempeng tektonik yang menabrak kerak lapisan bumi akan mengakibatkan lapisan kerak bumi naik mengambang di atas lapisan lempeng tektonik. Yang ketiga adalah lapisan kerak melewati lapisan kerak yang lain, hal ini akan mengakibatkan yang disebut blok sesar, yaitu pegunungan dari kerak bumi yang saling tumpang-tindih akibat dari pergerakan tidak searah bahkan berlawanan arah, sehingga yang satu akan bergerak di atas yang lainnya. Dan yang keempat adalah disebabkan proses erosi, terbentuknya gunung ini disebabkan oleh erosi air, angin, gravitasi ataupun es, ciri gunung seperti ini biasanya bebentuk piramida ataupun lingkaran berbentuk mangkuk yang di dalamnya terdapat danau. Dan dipastikan gunung yang ada di desa di mana Sutarjo dilahirkan bukan dari gunung yang disebabkan oleh erosi, yang paling mungkin adalah gunung tipe kedua, yaitu lempeng bumi saling bertabrakan di kerak bumi. Daerahnya terjal dengan batu cadas berdiri di mana-mana, sehingga bertanipun kesulitan untuk mendapatkan tanah yang idial seperti tempat pertanian di kontur tanah landai di kejauhan lereng kanan gunung. Inilah yang menyebabkan Sutarjo terbiasa dengan hidup keras, karena dia sudah ditempa oleh alam di mana dia tumbuh sejak dia dilahirkan.
Sutarjo sejak kecil hidup di sebuah rumah persis di bagian atas lereng bukit Gabah, suatu daerah yang bisa dikatakan terisolir dari desa-desa lainnya. Setiap anak yang ingin menuntut ilmu di sekolah formal, maka dia harus rela turun bukit di pagi hari ketika berangkat, lalu naik lagi pada siang hari ketika pulang sekolah. Waktu jarak tempuh sekali berangkat sampai tigapuluh menitan, dan ketika pulang bisa lebih dari itu. Tetapi mereka tidak pernah merasa kelelahan karena semuanya dilakukan dengan semangat kegembiraan. Orang tua Sutarjo selain bertani seadanya, juga di rumahnya membuka toko kelontong. Bahkan bukan hanya seperti toko kelontong kebanyakan yang dijual di tokonya, apapun yang penduduk desa itu perlukan, maka orang tua Sutarjo akan melayaninya, walaupun barang dagangan yang diperlukan tidak ada di dalam pajangan tokonya.
Mata pencaharian penduduk desa ini dipastikan bukan hanya mono-income saja, akan tetapi multi-income, sebagai petani dan pencari batu, sebagai petani dan pencari kayu, atupun sebagai petani dan pencari rumput liar. Ini karena tanah-tanah garapan untuk bertani umumnya kecil saja. Tebing-tebing batu cadas lebih mendominasi keadaan tanah di desa ini. Waktu untuk bertani tidak cukup melelahkan apabila dibandingkan dengan kekurangan penghasilan yang diperlukan untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari. Kendaraan jarak jauh mereka adalah dengan mengandalkan kuda, ini dipakai apabila ingin pergi ke pasar yang berada di desa di kaki bukit sebelum jalan raya. Setiap dua hari sekali ada saja orang yang akan ke pasar. Adalah merupakan suatu kebiasaan memesan barang yang diperlukan dari pasar kepada yang akan ke pasar dengan berkuda, karena hanya orang tertentu saja yang memiliki kuda di desa itu. Kuda-kuda akan membawa kantong-kantong besar yang diselempangkan di atas punggung bagian belakang di belakang pengemudi yang naik kuda. Inilah untungnya juga membuka toko kelontong seperti yang ayah Sutarjo lakukan. Jadi, kuda itu bagaikan ojeknya orang gunung Gabah.
Hubungan antar penduduknya seperti nasi di dalam kuali, erat sekali. Sehingga kesusahan yang terjadi terhadap salah seorang di desa itu akan segera diketahui oleh penduduk lainnya, akan dirasa oleh tetangga yang lainnya, bahkan mereka akan membantu sekuatnya.
Ketika malam tiba keadaan sepi dan sunyi seperti masuk di areal kuburan saja. Kalau ingin berjalan di malam hari dipastikan akan membawa obor sebagai penerangan jalan. Sayup-sayup dari kejauhan ada suara anak-anak yang sedang belajar mengaji, di sebuah tempat yang mereka sebut masjid. Anak-anak baik putra ataupun putri seperti tumpah ruah di masjid Ilmulyaqin, demikian orang-orang menyebut nama masjid berdindin terbuat dari kayu dan beralaskan tikar yang digelar kokoh di atas hamparan semen di atas tumpukan batu-batu gunung yang ditata itu. Untungnya di daerah sekitar pegunungan Gabah itu bisa dipastikan tidak ada binatang buas kecuali ular. Ular-ular kebanyakan mengembara untuk mencari mangsa pada malam hari. Dan ukurannya pun bisa dibilang kecil-kecil, tidak akan ada yang akan memangsa manusia secara utuh, terlalu besar ukurannya bagi seekor ular yang ada di gunung Gabah. Akan tetapi ada beberapa ular yang berbisa membahayakan kehidupan, dialah salah satunya adalah ular centong, demikian orang desa sana menyebutnya, sebenarnya adalah ular kobra hitam. Walaupun ada cerita rakyat bahwa yang menunggui bukit Gabah adalah seekor ular paiton, orang desa itu menyebutnya ular sawah, yang pada saat tertentu keluar untuk mencari mangsa terutama manusia jahat, selama ini tidak satupun ada orang yang dimangsa oleh ular paiton cerita itu. Atau mungkin karena sampai saat ini masih tidak ada orang jahat di sekitar bukit Gabah.
Demikian dalam keagamaan, mereka seratus persen seluruh penduduk di desa itu adalah pemeluk agama Islam. Demikian juga golongan atau istilah terkenalnya organisasi yang diikuti, adalah Barisan Tani Indonesia atau dikenal dengan nama BTI, disebut Beti oleh orang desa Sumber Agung, gunung Gabah ini. Merupakan organisasi penghubung antara Partai Komunis Indonesia dengan para petani di Indonesia. Awalnya hanya ada satu dua orang yang menjadi anggota, dari mulut-ke mulut, dan akhirnya semua penduduk desa itu menganggap diri mereka adalah anggota BTI walaupun secara organisasi hanya beberapa orang saja yang menjadi anggota, termasuk di dalamnya adalah Sugimin, ayah Sutarjo.
SUTARJO
Sutarjo muda seperti anak-anak kebanyakan di desanya, pagi ke sekolah dengan berjalan kaki hampir ke kaki bukit, tidak jauh dari lembah tempat sekolah berada. Dia biasa berteman dengan anak satu sekolah dari desa-desa sekitar gunung Gabah. Teman-temannya menaruh hormat kepada Tarjo panggilan Sutarjo karena keseriusannya. Tarjo baik hati tdan anaknya juga tegas. Guyon akan ia lakukan tetapi bukan semua topik ia bikin guyon, lain dengan kebanyakan teman-temannya. Walaupun prestasi akademiknya biasa saja, tetapi di dalam melakukan aktifitas yang berhubungan dengan tugas di luar mata pelajaran, Tarjo memiliki keunggulan dibandingkan teman-temannya yang lain. Sutarjo orangnya mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Senang mempelajari hal-hal yang bersifat pekerjaan tangan. Karena tekun dan gigihnya, Tarjo muda bisa membuat sangkar burung sendiri, bahkan terkadang dia jual di pasar juga sangkar yang sudah jadi. Selain senang memelihara burung, dia juga memiliki beberapa ayam juga. Tentang pakan untuk burung ataupun ayamnya, selain dari sisa makanan sehari-hari, dia juga mencarinya dari daun atau buah-buahan liar di sekitar gunung desanya.
Sutarjo sudah terkenal karena orang tuanya memiliki toko kelontong. Terkadang diapun mengirim atau membawa pesanan barang dari toko orang tuanya apabila ada yang memesannya. Yang penting barang atau bahan makanan yang dipesan bisa dibawa atau digendong sekuat tenaganya. Dia tidak memiliki kuda khusus untuk dia, juga dia tidak naik kuda ketika pergi ke sekolah. Bahkan beberapa temannya dengan tangan kosong membawa kayu bakar hasil pengumpulan yang didapat dari alas di atas gunung ketika berangkat sekolah dan di tumpuk di sekitar sekolah untuk nanti setelah jam sekolah berakhir dijual di pasar di bawah kaki gunung turun ke bawah sekitar tidak lebih dari sepuluh menitan dari sekolahnya.
Di pasar, bukan sembarang kayu yang tengkulak mau membeli. Mereka hanya akan membeli kayu-kayu kering saja dengan cara ditimbang. Dan juga, kayu basah akan berat bagi anak-anak untuk dibawanya, toh harga jualnya sangat jauh apabila dibandingkan dengan harga kayu kering. Timbangan terbuat dari batang besi sepanjang hampir 1 meter bagaikan linggis yang dipakai oleh orang-orang untuk menggali batu-batu cadas di gunung, tetapi bergaris-garis seperti yang ada di setiap penggaris, dan satu sisi pendeknya digantungkan lamak terbuat dari lempengan logam tipis tetap untuk tempat pemberat ukur terbuat dari kuningan yang bisa diganti-ganti, di sisi panjangnya juga diberi pemberat yang sama akan tetapi pemberat ini dapat digeser-geser pada lubang di tengahnya sesuai keseimbangan yang ditimbang. Manakala skala yang ada tidak mencukupi karena berat yang ditimbang melebihi kapasitas, maka di bagian yang pendek akan ditambahi pemberat timbangan yang sudah dipersiapkan. Pemberat-pemberat tambahan itu sama seperti timbangan lain yang dipakai di pasar yang digunakan untuk timbangan utamanya beras sampai sekitar maksimum 5 kilogram. Timbangan seperti itu juga ada di rumah Sutarjo, untuk dipakai menimbang dagangan yang akan dijual ataupun apa saja yang akan dibeli termasuk juga kayu bakar.
Demikian dalam keagamaan, mereka seratus persen seluruh penduduk di desa itu adalah pemeluk agama Islam. Demikian juga golongan atau istilah terkenalnya organisasi yang diikuti, adalah Barisan Tani Indonesia atau dikenal dengan nama BTI, disebut Beti oleh orang desa Sumber Agung, gunung Gabah ini. Merupakan organisasi penghubung antara Partai Komunis Indonesia dengan para petani di Indonesia. Awalnya hanya ada satu dua orang yang menjadi anggota, dari mulut-ke mulut, dan akhirnya semua penduduk desa itu menganggap diri mereka adalah anggota BTI walaupun secara organisasi hanya beberapa orang saja yang menjadi anggota, termasuk di dalamnya adalah Sugimin, ayah Sutarjo.
SUTARJO
Sutarjo muda seperti anak-anak kebanyakan di desanya, pagi ke sekolah dengan berjalan kaki hampir ke kaki bukit, tidak jauh dari lembah tempat sekolah berada. Dia biasa berteman dengan anak satu sekolah dari desa-desa sekitar gunung Gabah. Teman-temannya menaruh hormat kepada Tarjo panggilan Sutarjo karena keseriusannya. Tarjo baik hati tdan anaknya juga tegas. Guyon akan ia lakukan tetapi bukan semua topik ia bikin guyon, lain dengan kebanyakan teman-temannya. Walaupun prestasi akademiknya biasa saja, tetapi di dalam melakukan aktifitas yang berhubungan dengan tugas di luar mata pelajaran, Tarjo memiliki keunggulan dibandingkan teman-temannya yang lain. Sutarjo orangnya mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Senang mempelajari hal-hal yang bersifat pekerjaan tangan. Karena tekun dan gigihnya, Tarjo muda bisa membuat sangkar burung sendiri, bahkan terkadang dia jual di pasar juga sangkar yang sudah jadi. Selain senang memelihara burung, dia juga memiliki beberapa ayam juga. Tentang pakan untuk burung ataupun ayamnya, selain dari sisa makanan sehari-hari, dia juga mencarinya dari daun atau buah-buahan liar di sekitar gunung desanya.
Sutarjo sudah terkenal karena orang tuanya memiliki toko kelontong. Terkadang diapun mengirim atau membawa pesanan barang dari toko orang tuanya apabila ada yang memesannya. Yang penting barang atau bahan makanan yang dipesan bisa dibawa atau digendong sekuat tenaganya. Dia tidak memiliki kuda khusus untuk dia, juga dia tidak naik kuda ketika pergi ke sekolah. Bahkan beberapa temannya dengan tangan kosong membawa kayu bakar hasil pengumpulan yang didapat dari alas di atas gunung ketika berangkat sekolah dan di tumpuk di sekitar sekolah untuk nanti setelah jam sekolah berakhir dijual di pasar di bawah kaki gunung turun ke bawah sekitar tidak lebih dari sepuluh menitan dari sekolahnya.
Di pasar, bukan sembarang kayu yang tengkulak mau membeli. Mereka hanya akan membeli kayu-kayu kering saja dengan cara ditimbang. Dan juga, kayu basah akan berat bagi anak-anak untuk dibawanya, toh harga jualnya sangat jauh apabila dibandingkan dengan harga kayu kering. Timbangan terbuat dari batang besi sepanjang hampir 1 meter bagaikan linggis yang dipakai oleh orang-orang untuk menggali batu-batu cadas di gunung, tetapi bergaris-garis seperti yang ada di setiap penggaris, dan satu sisi pendeknya digantungkan lamak terbuat dari lempengan logam tipis tetap untuk tempat pemberat ukur terbuat dari kuningan yang bisa diganti-ganti, di sisi panjangnya juga diberi pemberat yang sama akan tetapi pemberat ini dapat digeser-geser pada lubang di tengahnya sesuai keseimbangan yang ditimbang. Manakala skala yang ada tidak mencukupi karena berat yang ditimbang melebihi kapasitas, maka di bagian yang pendek akan ditambahi pemberat timbangan yang sudah dipersiapkan. Pemberat-pemberat tambahan itu sama seperti timbangan lain yang dipakai di pasar yang digunakan untuk timbangan utamanya beras sampai sekitar maksimum 5 kilogram. Timbangan seperti itu juga ada di rumah Sutarjo, untuk dipakai menimbang dagangan yang akan dijual ataupun apa saja yang akan dibeli termasuk juga kayu bakar.
Di hari libur sekolah, pada sore sampai dengan sebelum petang, para remaja desa melakukan aktifitas utamanya belajar seni beladiri. perkumpulan Pencak Silat Elang Hitam adalah satu-satunya perguruan seni beladiri di gunung Gabah, dan tentu sangat terkenal pada saat itu. Guru silatnya adalah seorang pendekar yang biasa dipanggil Guru Solikin, demikian nama master guru silat Elang Hitam, ia dibantu oleh anak lelaki satu-satunya, Eko Tirto, pernah berkata; "Belajar seni beladiri bukan untuk dipakai berkelahi saat diserang orang, akan tetapi menghindari konflik. Karena menghindarpun harus memiliki seni, kecuali menghindar tidak lagi mampu untuk mencegah serangan, maka bertahan adalah langkah selanjutnya. Menyerang adalah hal yang paling akhir". Itu yang akan diingat oleh pengikut pencak silat ini. Walaupun ada beberapa yang sudah memiliki tingkatan tinggi sekelas ban hitam, namun mereka tetap tidak akan merasa sombong, karena seni beladiri yang dimiliki adalah untuk menghindari serangan.
Seni beladiri tanpa dipungut biaya ini membuat semua murid sangat hormat kepada guru silatnya yang memiliki murid sekitar 12 remaja, mulai dari usia 12 tahun sampai dengan usia 18 tahun. Sutarjo adalah murid yang paling baik,walau tidak banyak omong, dia adalah anak remaja yang paling bagus seni beladirinya diantara semua teman seperguruannya. Tarjo terkadang membantu sang guru apabila Eko berhalangan. Eko sering bepergian mengurusi dirinya sendiri karena tidak lama lagi dia akan menikah, tepat pada awal bulan Desember depan ini ketika usianya akan menginjak 26 tahun, ini berarti setelah 6 bulan lagi.
Sedangkan anak-anak lain terutama yang berusia kurang dari 10 tahun bermain bebas saja. Walaupun ada beberapa yang tidak bersekolah, namun mereka seolah sama saja, bermain semaunya. Permainan bola kasti dan patelele adalah yang paling populer diantara anak-anak desa ini. Tempat bermain kasti tepat di belakang Masjid, sedangkan patelele di samping kanan Masjid. Dua lapangan itu merupakan tempat bermain permainan desa, tidak ada yang lain di desa itu. Semua pemuda akan pernah merasakan bermain di lapangan Masjid Ilmulyaqin, suatu desa paling atas selatan gunung Gabah, itulah Desa Sumber Agung yang terletak di Kecamatan Watu Agung, dan masih termasuk Kabupaten Nganjuk. Desa yang hampir pasti penduduk dewasanya merasa sebagai pengikut Beti.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment